Sabtu, 16 April 2011

Baaatuk aja...!

Batuk Pada Anak Yang Tidak Cepat Sembuh

Posted by Neng Novie on
Siang hari, meski agak lemas, Kiki, 8 tahun, masih bisa bermain dengan sepupunya. Di masa liburan, beruntung ia memiliki nenek yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Jadi, dalam kondisi batuk yang terus menempel, ia masih bisa berkunjung ke rumah nenek dan berkumpul dengan sepupunya. "Batuknya sudah dua bulan. Tapi yang parah malam, bisa-bisa dia nggak tidur deh," kata sang mama.
Obat Batuk, Obat Batuk Tradisional, Obat Batuk Alami, Obat Batuk 
Berdahak, Obat Batuk Herbal, Obat Batuk Kering, Obat Batuk Anak, Obat 
Batuk Bayi, Obat Batuk Ibu Hamil, Obat Batuk Pilek
Badan anak yang akan menginjak kelas III sekolah dasar ini memang kurus. Sedari kecil, batuk akrab dengannya. Kadang baru sembuh seminggu, tenggorokannya sudah mulai gatal lagi dan tak lama suara uhuk-uhuk pun muncul dari mulutnya. Dr Haidir Suleiman MM, SpRM menyebutkan batuk merupakan salah satu cara untuk mengeluarkan lendir yang jumlahnya berlebih. "Jadi, lendir atau dahak diproduksi dalam jumlah besar, sedangkan ukuran saluran pernapasan pada paru ukurannya medium," katanya. Normalnya, ia menyebutkan lendir tersebut keluar dari saluran bronkial dengan aksi dari cilia (rambut getar), menarik napas panjang dan batuk.
Walhasil, batuk adalah suatu motorik refleks. Spesialis anak FX Marseno menjabarkan batuk dipicu oleh sebuah rangsangan yang diteruskan ke otak dan dari pusat batuk di otak dikirim sinyal guna merangsang otot diafragma dan dinding rongga dada untuk beraksi dan berkontraksi. "Tidak semua batu itu jelek. Jadi jangan terlalu cemas," ia menegaskan dalam diskusi yang digelar Siloam Hospitals, Kebon Jeruk, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Lantas, bagaimana bila batuk yang tidak kunjung sembuh atau terus kambuh? Marseno menyatakan kondisi ini dapat disebabkan oleh banyak faktor. Dia memaparkan, bisa jadi faktor dokter yang mengobati, orang tua yang melaksanakan program pengobatan yang diberikan dokter, dan faktor lain yang belum diatasi dengan baik. Misalnya, pengaturan lingkungan hidup dan peningkatan daya tahan tubuh agar tidak mudah tertular. Marseno menjelaskan, balita cenderung lebih sering sakit karena daya tahan tubuh mereka terhadap infeksi yang terjadi di sekitarnya masih rendah sehingga mereka cepat tertular. Begitu juga anak yang memiliki bakat alergi yang kuat. Infeksi serupa pada anak tanpa bakat alergi tidak memicu kondisi parah, tetapi pada anak dengan genetik alergi dapat menyebabkan gangguan yang berlarut-larut.
Dari sisi dokter, ia menyebutkan kekambuhan itu bisa jadi karena dokter belum mengetahui penyebabnya dan pemberian obat pun belum tepat. "Atau bisa juga pengobatan sudah tepat, tetapi orang tua tidak melaksanakannya sesuai dengan aturan," Marseno mengungkapkan. Misalnya, dokter meminta diberikan obat tiga kali, pagi-siang-malam, tapi pemberian obat tidak tepat waktu. Padahal, kata dia, dengan tiga waktu itu, ada interval khusus, yakni enam jam. Sedangkan orang tua memberinya obat dalam interval waktu delapan jam. Atau takarannya, seharusnya satu sendok, karena ragu atau takut, menjadi setengah dari takaran seharusnya.
Bisa jadi juga ketika si anak baru sembuh, ia tertular lagi dari lingkungan di sekolah atau rumah. Belum lagi si anak tak kunjung sehat karena faktor lingkungan yang tidak mendukung proses penyembuhan. Artinya, bebasnya si anak dari batuk itu tidak hanya bergantung pada obat-obatan. "Obat saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah batuk yang berulang dan tidak sembuh-sembuh," Marseno menegaskan.
Ia menambahkan, perlu dilakukan juga perbaikan lingkungan hidup karena faktor ini sering menjadi perangsang batuk. Caranya, hindari polusi udara, di antaranya berupa asap rokok, infeksi virus/selesma, bahan kimia, udara kering, dan berenang. Selain itu, perlu peningkatan daya tahan tubuh anak, pengendalian alergi bila ada, dan tentunya kerja sama orang tua dengan dokter.
Marseno menyebutkan batuk pada anak dibagi dua, menurut lamanya dan frekuensi kekambuhannya. Bila berlangsung kurang dari 14 hari disebut batuk akut dan umumnya akan sembuh dengan sendirinya. Artinya, tidak memerlukan pengobatan yang spesifik. Sedangkan jenis lain ialah batuk kronik, yakni berlangsung lebih dari 14 hari dan berulang-ulang, sedikitnya tiga episode selama tiga bulan berturut-turut. "Nah, yang ini harus dicari penyebabnya dan disembuhkan dengan baik."
Di dunia medis, ia menjelaskan, dokter biasa menentukan lokasi kelainan penyebab batuk, apakah di saluran napas atau paru. Bila di saluran napas pun dicari lagi, apakah bagian atas atau bawah. Nah, pada batuk kronis berulang pada anak ada tiga penyebab. Yang paling sering adalah infeksi virus dan penyakit saluran napas seperti asma dan variannya. Sering juga disebabkan oleh alergi, rhinosinusitis, dan batuk pascainfeksi. Lalu, yang tergolong jarang masuknya benda asing, misalnya karena tersedak, rendahnya kekebalan tubuh, dan kelainan pada bronkus.
Karena itu, Marseno pun mengungkapkan pada anak perangsang refleks batuk pada anak ada tiga hal (SEK). Pertama, sekret, yakni ingus hidung dan lendir di tenggorokan, trakea, bronkus, dan bronkiolus. Kedua, edema--pembengkakan mukosa akibat radang dan infeksi. Biasanya karena alergi atau infeksi virus. Ketiga, kontriksi--penyempitan diameter saluran pernapasan karena pengerutan otot bronkus dan tekanan dari luar. Ia menegaskan, ada kesamaan untuk penanganan antara batuk akut dan kronis. "Obat penghilang batuk tak penting. Pengobatan harus berdasarkan penyebabnya."
RITA

Refleks Batuk
1. Batuk adalah sebuah usaha tubuh untuk mengeluarkan kelebihan cairan, toksin, dan benda asing dari saluran pernapasan.
2. Batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh yang alami untuk melindungi sistem pernapasan sehingga batuk akut tidak seharusnya dihentikan atau ditahan. Dalam proses juga akan sembuh sendiri, kecuali bila sudah menjadi kronis.
3. Refleks batu terdiri atas empat tahapan.
a. Inspirasi: Menarik napas panjang, volume udara yang dihirup akan menentukan kekuatan batu. Kemudian glottis tertutup.
b. Kompresi: Terjadilah kontraksi pada otot-otot pernapasan sehingga terjadi tekanan pada rongga dada sangat tinggi sehingga glottis terbuka.
c. Ekspirasi: Aliran turbulen yang tinggi dan cepat sehingga benda-benda asing yang mengganggu dari saluran pernapasan keluar.
d. Relaksasi: Kontraksi terus terjadi pada otot-otot pernapasan sampai terjadi rangsangan batuk berikutnya.

Dongkrak Kelembapan Hidung
1. Dengan minum air sebanyak mungkin.
2. Mandi air hangat dan nasal drop/spray.
3. Menjaga kelembapan udara ruang yang ideal dengan cara memelihara ikan hias di akuarium, kolam kecil, atau humidifier. l

Ulat bulu ohh ulat bulu

Jangan Basmi Ulat Bulu dengan Racun Hama

Dadan Muhammad Ramdan - Okezone
Jum'at, 15 April 2011 07:08 wib
 0  420
Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)
JAKARTA - Fenomena ulat bulu yang muncul di sejumlah daerah mulai meresahkan masyarakat. Tidak hanya di Probolinggo, tapi kian meluas. Di beberapa daerah diberitakan kemunculan jenis serangga yang menimbulkan rasa gatal ini membuat aktivitas warga terganggu, di samping merusak tanaman atau pohon produktis seperti mangga dan alpukat.

Pemerintah setempat dan warga pun melakukan penanganan untuk mengantisipasi perkembangan ulat bulu, dari mulai melepas burung, membakarnya, sampai menyemprotkan racun pembasmi hama. Banyak pakar menilai fenomena ulat bulu ini akibat ketidakseimbangan ekosistem dan diperparah dengan cuaca ekstrem.

Sejumlah pembaca okezone juga menanggapi beragam mengenai fenomena ini. Misalnya, M.Surahman.  "Alam memberikan apa yang terbaik baginya, ketika satu spesies hilang akan diikuti ledakan populasi oleh spesies lainnya, dan inilah ketidak seimbangan ekosistem," tulisnya.

Menurut dia, penyemprotan perangsang tumbuh bunga untuk mempercepat keluarnya buah mangga menyebabkan hidupan lain seperti semut dan organisme lainnya yang mengatur pertumbuhan populasi ulat di alam mati. Dengan demikian populasi ulat meningkat karena predatornya hilang. "Jadi hati-hati menggunakan perangsang pertumbuhan bunga pada mangga," imbau Surahman.

Sementara Mohamad Soleh mengatakan, untuk menjaga kesuburan tanah dan mengembalikan kebugaran tanah, sebaiknya untuk membasmi ulat bulu tidak memakai racun. Sebab, akan membunuh mikroorganisme dalam tanah yang sebenarnya juga berguna untuk membunuh hama ulat di dalam tanah sampai ke telur telurnya.

Kalau pakai racun yang terbunuh hanya ulat dewasa, telur di dalam tanah dan di dalam perut ulat tersebut belum mati bisa menetas lagi dan juga racun membunuh mikroorganisme di dalam tanah. 

"Saya menyarankan untuk pakai bahan organik saja karena sifat membunuhnya sistemik sampai ke telur-telurnya. Namun yang namanya sistemik tidak langsung mati yang butuh waktu 3 sampai 7 hari. Saya pernah mencobanya untuk perbaikan tanah dan memproteksi hama tanaman yang berasal dari dalam tanah," papar Mohamad.

"Saya coba obat dari PBB yang merupakan rahasia Thailand. Namanya biotamax (custombio) yang di dalamnya ada 6 jenis bakteri dan 4 cendawan menguntungkan yang ditidurkan dalam bentuk tablet," sambungnya.  Langkah itu, kata dia, sudah dicobanya untuk tanaman sayur dan padi dan berhasil. "Saya sama sekali tidak menyemprot racun sampai panen," ungkap Mohamad.
(ram)